Indonesia Tuntaskan Kebakaran Hutan di Kalimantan, 44 Orang Ditangkap
| Indonesia Tuntaskan Kebakaran Hutan di Kalimantan, 44 Orang Ditangkap |
Pemerintah Indonesia menyatakan keberhasilan dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan selama beberapa bulan terakhir. Operasi gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI-Polri, dan Manggala Agni berhasil memadamkan mayoritas titik api. Hingga kini, sebanyak 44 orang telah ditangkap karena diduga terlibat dalam pembakaran hutan secara ilegal.
Pemadaman Skala Besar dan Teknologi Satelit
BNPB mencatat lebih dari 1.200 hektare lahan terbakar sejak awal Mei 2025, terutama di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Operasi pemadaman dilakukan melalui darat dan udara, termasuk pengiriman helikopter water bombing, drone pemantau, dan teknologi satelit untuk mendeteksi titik api secara real-time.
“Langkah cepat dan koordinasi lintas lembaga menjadi kunci dalam menangani karhutla tahun ini,” ungkap Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers di Palangka Raya.
Penangkapan 44 Pelaku Pembakaran
Polri menyatakan telah menangkap 44 pelaku pembakaran, baik individu maupun oknum dari perusahaan perkebunan. Dari jumlah tersebut, 12 orang merupakan petani lokal, sementara sisanya diduga berasal dari perusahaan besar yang membuka lahan untuk kepentingan ekspansi perkebunan sawit.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa penegakan hukum akan terus dilakukan. “Siapapun yang terbukti membakar hutan dan lahan, baik individu atau korporasi, akan ditindak tegas. Ini kejahatan lingkungan yang serius,” tegasnya.
Dampak Ekologis dan Kesehatan
Kebakaran hutan tahun ini menyebabkan asap pekat menyelimuti beberapa kota, mengganggu penerbangan dan aktivitas masyarakat. Ribuan warga dilaporkan mengalami gangguan pernapasan, dan puluhan sekolah terpaksa ditutup sementara.
Organisasi lingkungan mencatat bahwa habitat satwa langka seperti orangutan dan bekantan juga turut terdampak. LSM WALHI menyebutkan bahwa lebih dari 300 hektare lahan gambut yang terbakar merupakan kawasan konservasi.
Langkah Pencegahan Berkelanjutan
Pemerintah mengumumkan rencana memperluas program restorasi ekosistem, reboisasi, dan pengawasan ketat terhadap izin lahan. Teknologi pemantauan berbasis AI juga akan diterapkan untuk memprediksi potensi kebakaran berdasarkan cuaca dan kelembaban tanah.
“Ke depan, pengendalian karhutla tidak bisa hanya reaktif. Harus ada perencanaan jangka panjang dan keterlibatan masyarakat,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar.