Sukatani dan Kontroversi Lagu “Bayar Bayar Bayar” Soal Korupsi Polisi
| Sukatani dan Kontroversi Lagu ‘Bayar Bayar Bayar’ Soal Korupsi Polisi” |
Grup punk asal Purbalingga bernama Sukatani tiba-tiba menjadi perbincangan hangat di jagat maya usai merilis lagu berjudul “Bayar Bayar Bayar”. Lagu tersebut secara gamblang menyentil isu korupsi di tubuh kepolisian, memicu kontroversi tajam hingga berujung pada pemanggilan mereka oleh aparat.
Dengan lirik lugas dan gaya punk yang frontal, Sukatani menyuarakan kegelisahan publik terkait pungutan liar, tilang, hingga “setoran jalanan”. Lagu ini langsung viral di media sosial, terutama di TikTok dan X (Twitter), dan menyita perhatian berbagai kalangan—mulai dari aktivis, pengamat sosial, hingga institusi negara.
Lirik yang Jadi Sorotan
Cuplikan lirik lagu “Bayar Bayar Bayar” seperti:
“Berhenti di lampu merah, nggak salah tapi bayar / Tilang dadakan, surat ditahan, semua harus bayar”
“Setiap langkah diawasi, bukan untuk aman, tapi untuk bayar”
Lirik-lirik ini dianggap mewakili keresahan banyak orang yang merasa sudah jenuh dengan sistem yang dipenuhi praktik “uang pelicin”.
Setelah viral, grup Sukatani mendapat pemanggilan klarifikasi oleh aparat setempat. Pihak kepolisian menilai lagu tersebut berpotensi menyebarkan kebencian dan menyudutkan institusi, meskipun tidak menyebutkan nama atau wilayah secara eksplisit.
Dalam konferensi pers, salah satu pejabat kepolisian menyatakan:
“Kami memahami kebebasan berekspresi, namun konten seperti ini bisa menyesatkan publik dan menimbulkan citra buruk terhadap institusi kami.”
Pemanggilan terhadap Sukatani justru memicu gelombang dukungan luas dari netizen dan komunitas musik independen. Banyak yang menganggap lagu ini sebagai bentuk kritik sosial yang sah dan perlu dilindungi.
Beberapa komentar yang viral di media sosial:
-
“Kalau liriknya nggak benar, kenapa tersinggung?”
-
“Justru lagu ini bikin kita sadar realita di jalanan.”
-
“Punk bukan punk kalau nggak teriak soal ketidakadilan.”
Bahkan, sejumlah musisi indie lainnya ikut membuat ulang versi mereka dari lagu “Bayar Bayar Bayar” sebagai bentuk solidaritas.
Dalam pernyataan publik, Sukatani menjelaskan bahwa lagu mereka lahir dari realita yang mereka dan masyarakat sekitar alami.
“Kami bukan anti polisi, tapi anti korupsi. Kalau nggak ada yang berani ngomong, siapa lagi?”
Mereka juga menyatakan siap berdialog dengan pihak berwenang, tapi tetap akan berdiri di sisi rakyat.
kritik terhadap lembaga negara, dan hak musisi untuk menyuarakan keresahan sosial. Di tengah era digital yang semakin terbuka, suara-suara dari akar rumput seperti Sukatani menunjukkan bahwa musik masih menjadi medium perlawanan dan harapan.
Apakah akan ada perubahan nyata? Belum tentu. Tapi satu hal pasti: lagu ini telah membuat banyak orang berhenti, mendengarkan, dan bertanya — apakah kita memang harus “bayar” untuk keadilan?
kritik terhadap lembaga negara, dan hak musisi untuk menyuarakan keresahan sosial. Di tengah era digital yang semakin terbuka, suara-suara dari akar rumput seperti Sukatani menunjukkan bahwa musik masih menjadi medium perlawanan dan harapan.
Apakah akan ada perubahan nyata? Belum tentu. Tapi satu hal pasti: lagu ini telah membuat banyak orang berhenti, mendengarkan, dan bertanya — apakah kita memang harus “bayar” untuk keadilan?